Hello, We're Famous! (And We're In Big Trouble...)

Terus terang saya bingung ketika berita kriminal tentang Ryan tiba-tiba masuk ke ranah infotainmen. Saat itu saya bertanya: bagaimana bisa, dengan perbuatannya itu, dia dengan sekejap masuk dalam daftar selebriti yang ramai diburu beritanya? Berita kriminal rupanya memang dapat dijual dengan mudah. Tapi tetap saja, saya bingung dengan pemilahan yang dilakukan para produser infotainmen tersebut. Jika menyoroti masalah yang melibatkan suami pedangdut Kristina, saya masih maklum, karena toh Al Amin memang beristrikan seorang selebriti. Tapi Ryan?

Sudah lima hari belakangan ini berita mengenai Ryan - sang mutilator, tidak lagi gencar ditayangkan di televisi. Padahal berita pembunuhan yang dilakukannya, sempat mengisi berbagai headline di sejumlah tayangan infotainmen yang ada. Kini yang ramai diberitakan adalah Sheila Marcia. Terus terang, guilty pleasure saya adalah menonton sinetron yang dibintanginya (juga yang ada Shareefa Danish-nya tentu saja ^^). Tapi, weleh weleh...kenapa begini jadinya? Nah, di luar itu semua, "keanehan" kembali terjadi. Entah karena kekurangan stok berita, tayangan-tayangan hasil olahan news affair di beberapa stasiun televisi malah ikut-ikutan mem-blow up berita penangkapan Sheila Marcia ini. Tiap hari, selalu saja ada tayangan mengenai hal ini. Bahkan editing untuk versi infotainmen dan hard news-nya tidak jauh berbeda. Wahai divisi pemberitaan..hello?! Yang benar saja...

Kesimpulan tesis saya kali ini adalah:
(1) Terdapat perbedaan rerata antara tayangan infotainmen dan hard news, namun ada kecenderungan bahwa para produsernya menjadi bingung menentukan berita apa saja yang sesuai dengan bagian masing-masing.
(2) Isi berita tayangan infotainmen dan hard news menunjukkan korelasi yang lemah dan tidak signifikan. Namun dengan indeks kepercayaan 95%, apabila produser saja bisa bingung, apalagi saya....
                            

Shop Till You Drop

Siapa bilang orang Jakarta miskin? Siapa bilang di masa kenaikan BBM ini, orang-orang jadi semakin susah? Saya agak kurang percaya. Awalnya saya menyangkal, tapi setelah melihat ajang Jakarta Great Sale yang berhasil menarik minat para penggila belanja, saya semakin mantap berpendapat. Orang-orang Jakarta sinting! Ini bukan upaya menggeneralisasi.

Lihat antrian di beberapa pusat perbelanjaan terkenal ibukota. Orang-orang rela berbaris menunggu giliran membayar barang-barang yang dibelinya. Bahkan hingga tengah malam! Dirasuki oleh setan ‘brand’ ternama, mereka semakin menggila. Tapi siapa tahu, mungkin saja mereka sebelumnya telah kursus mengenai ‘Teori dan Praktik Ideologi Konsumtivisme’, yang mengedepankan nilai-nilai rakus, boros dan tidak rasional. Saya rasa mereka lulus dengan Cum Laude.

Entah atas alasan apapun itu, tapi pasti ujung-ujungnya adalah urusan ‘simbol’ kelas sosial. Saya bisa memastikan, semakin orang berpikir “Aku ingin seperti mereka...”, maka akan semakin banyak social climber bermunculan. Entah siapa yang salah. Si pemanjat, atau si panutan? Atau mungkin tidak ada yang bisa disalahkan? Yang pasti, saya pernah melihat seorang penjual mainan anak-anak melintas dengan menenteng handphone mahal; seorang tukang kebun asik menelepon dengan HP-nya sambil menyiram tanaman; seorang ibu lebih memilih membeli pulsa daripada membeli susu untuk anaknya yang kurus.

Keberadaan pusat-pusat perbelanjaan dan penggila belanja yang semakin banyak bermunculan telah menunjukkan sesuatu: orang-orang miskin belum tentu miskin, dan orang-orang kaya belum tentu kaya. Mau berlindung dengan menebeng pada alasan kenaikan BBM? Atau pada pembangunan yang tidak merata? Itu hanyalah produk politik. Di sini, yang ada bukanlah orang-orang miskin. Bukan juga orang-orang susah. Di sini, orang-orang yang sangat berkecukupan tidak (mau) membantu orang-orang yang tidak mampu. Orang-orang atas tidak (mau) menengok ke bawah. Sekali lagi, saya tidak menggeneralisir. Hanya menyebutkan persentase terbesar yang terbaca. Jika kalian memang tidak peduli, terus saja membeli brand kebanggaan kalian. Lupakan kebutuhan, penuhi keinginan. Isi terus lemari-lemari baju, tas dan sepatu kalian. Belilah apapun yang kalian lihat. Belanjakan seluruh uangmu. Belanja terus sampai mati.

On A Friday

Hari ini adalah hari Jumat. Seperti hari-hari Jumat lainnya, hari ini seharusnya tetap menjadi hari malas minggu ini. Mungkin karena budaya “pulang cepat” sejak dahulu kala sedari kecil, hari Jumat memang terasa lebih cepat. Matahari terbit dan tenggelam lebih cepat dibanding hari-hari lainnya dalam seminggu. Rutinitas harian yang terorganisir dengan baik bahkan telah membuat saya terlanjur menganggap hari Jumat adalah “Hari Tanpa Kegiatan Berarti”.

Hari ini adalah ‘Off Day’ yang ditunggu-tunggu. Pekerjaan di sore dan malam hari yang sudah dijadwalkan, sedikit memaksa saya untuk bermalas-malasan di pagi harinya. Tentu saja untuk mengisi baterai saya. Namun tiba-tiba telepon berdering. Ibunda tercinta meminta untuk mengantarkan sebuah benda yang tertinggal. Ayahanda pun kemudian menelepon, mengkonfirmasi benda miliknya yang terlupakan di lemari depan. Sedikit berat hati, saya akhirnya melangkah keluar, setelah memenangkan pertempuran hati itu. Pertempuran dilematis yang tidak terlalu beralasan. Agak aneh rasanya, ketika rencana hari itu sedikit berubah. Huff.

Waktu menunjukkan 11:12 AM ketika tiba di stasiun Bogor. Perjalanan pun segera dilanjutkan, mengingat benda ini sangat penting untuk segera diantarkan. Taksi pun menjadi pilihan utama. Cepat (kadang sangat cepat) dan nyaman. Awalnya, karena tidak banyak pilihan, saya memilih sebuah nama yang tidak terlalu populer. Mitra. Warnanya yang kusam, dengan debu-debu menempel di rangka luarnya, tidak terlalu menarik minat saya. Bahkan sedan abu-abu itu tidak memakai lapisan kaca film. Pengemudinya pun seperti terlihat tidak bersahabat. Dengan was-was, akhirnya saya berangkat juga. Tidak ada pilihan.

Perjalanan begitu membosankan. Jalan tol yang panjang. Mobil-mobil berkecepatan tinggi. Hamparan rumput kering yang tidak begitu hijau. Hingga akhirnya, suasana hening di dalam, lalu pecah. Lantunan lagu Chrisye terdengar dari speaker belakang. Pak supir bernyanyi dengan lantang. Saya pun bergumam pelan, ikut bersenandung dengan lirih. Takut ketahuan…hehehe….

Mencoba mengakrabkan diri, pak supir lalu bertanya tentang saya. Setelah dirinya mengetahui kegiatan saya sehari-hari, raut wajahnya berubah. Dia terlihat lebih cerah. “Wah, saya paling seneng kalo udah ketemu anak UI. Pengen ngetes otaknya,” ujarnya sambil terkekeh-kekeh. Dia lalu mengambil sebuah lembaran kertas tiket tol. “Mas, coba, ini disobek tapi jangan sampe sobek. Bisa nggak?” tanyanya dengan bersemangat.

Jujur, saya sedikit menaruh curiga. Sejak naik taksi ini bahkan. Mengingat banyak kasus yang menimpa penumpang taksi, pada awalnya saya bersikap apatis. Tapi akhirnya cair juga. Saya mencoba masuk ke dalam keramahtamahannya. Beberapa argumen saya keluarkan untuk menjawab soal yang dia berikan. Tentang tiket itu, saya bersikeras, kalau disobek tentu saja pasti akan sobek. Melihat saya menyerah, dia kemudian mengambil tiket itu, melipatnya menjadi dua bagian, kemudian menyobek dengan bentuk setengah lingkaran pada bagian yang terlipat. “Nah, tadi kan udah saya sobek. Ini saya buka lagi. Nggak sobek kan? Cuma bolong doang,” sambil menunjukkan bagian tiket yang bolong di bagian tengahnya. Seperti yang telah diduga, kemudian terjadi perdebatan sengit yang tidak penting. Argumen mengenai pengertian ‘sobek’ dan ‘bolong’ pun berlangsung. Hahaha....

Saya ingat betul, betapa lelucon-lelucon yang dikeluarkan si pengemudi taksi itu berhasil memecah suasana. Salah satunya, ya, tebak-tebakan tadi. Aksi saling ‘serang’ untuk membalas ‘kekalahan’ pun kerap kali dilakukan. Entah bagaimana, saya tiba-tiba merasa sudah kenal lama dengan pak supir itu. Terasa sangat bersahabat. Akhirnya, ketika waktu hampir menunjukkan pukul 12 siang, dan masih belum sampai tujuan, saya sudah mengikhlaskan waktu shalat Jumat kali ini terlewatkan. Tapi ternyata pepatah “niat baik pasti ada jalannya” memang benar adanya. Pukul 12.19 saya sampai di tempat tujuan, sebuah tempat di Cisarua, tepat ketika adzan berkumandang. Kebetulan sekali, di seberang terdapat sebuah masjid. Dengan bergegas, saya dan pak supir lalu menuju masjid itu.

Selesai shalat Jumat, dan setelah mengontak ayahanda tercinta, benda yang tertinggal itu akhirnya berpindah tangan. Ya, dompet itu sudah berhasil diantarkan. Tugas selesai. Perjalanan pulang dengan taksi yang sama, kemudian saya lakukan. Alhasil selama perjalanan balik, keluarlah banyak tebak-tebakan dan lelucon yang belum muncul. Harga ‘borongan’ yang sudah disepakati, benar-benar tidak bisa membayar keramahtamahannya yang terus mengalir. Saya seperti berada di rumah. Jujur, baru kali ini saya menumpang sebuah taksi yang bukan seperti taksi. Hingga akhirnya perjalanan berakhir. Saya tiba kembali di stasiun Bogor. Bapak supir itu (akhirnya) memperkenalkan dirinya, seraya menunjukkan tanda pengenalnya. Ah, andai saja beliau menyebutkan namanya lebih awal, tentu saya akan bertanya apakah ‘SH’ pada nama Abdul Matin SH itu adalah ‘sarjana hukum’? Hmm....

Setelah berada di KRL menuju Depok, tiba-tiba terdengar monolog di otak kecil saya. “Hei! Hari ini, setengah jam lagi, take untuk scene pertama akan dimulai! Segera bergegas!”, ujarnya. Berada di kereta yang tidak dapat dipacu lebih cepat, membuat saya senewen. Angkot yang saya naiki setelahnya, ternyata juga banyak ngetem di sepanjang jalan. “Wan, syuting wan!” Mereka sudah menunggu!”, monolog itu terjadi lagi. Berada dalam keadaan senewen yang berkepanjangan, setelah menjalani perjalanan panjang Depok-Bogor-Cisarua-Bogor-Depok dalam waktu 5 jam, hampir membuat saya mengucapkan “Assalamu’alaikum!” untuk menggantikan kata “Kiri, Bang!” ketika menyetop angkot yang saya naiki. Hahaha...mungkin hari Jumat ini merupakan hari yang baik bagi saya untuk mulai meminum vitamin otak.... :D

Hey! Hey! You! You!

Agak susah untuk tidak mengomentari banyak hal yang terjadi di bulan Mei ini. Mulai dari demo BBM di mana-mana (yang kebanyakan dilakukan para mahasiswa dan terkadang berlangsung rusuh; padahal untuk setiap aset publik yang mereka rusak, nantinya uang negara juga lah yang harus menggantinya), BLT dari pemerintah yang kacau-balau (mulai dari sumber data yang bermasalah, sampai ke tahap pembagiannya yang tidak direncanakan dengan baik), sampai ke tawuran antar mahasiswa di daerah Salemba (yang dilakukan oleh para mahasiswa goblok dan tolol itu; bagaimana tidak, di saat teman-teman seperjuangannya menuntut pembatalan kenaikan BBM, mereka malah sibuk berebut lahan parkir – atau atas dalih apapun itu).

Nah, daripada memusingkan hal-hal itu, marilah kita sejenak menengok ke hal-hal lain yang tidak terlalu penting, tapi cukup penting untuk dibuat penting (hahaha…pusing kan loe…?). Mmm…misalnya saja dengan membicarakan masalah “Go Green” yang akhir-akhir ini menjadi topik yang lumayan penting (heh…lagi-lagi memakai kata “penting”. Penting gitu…?). Eh, tapi ini beneran. Mungkin mulai tahun lalu, kita jadi terinspirasi dan mendadak “peduli lingkungan”. Banyak sih kemungkinan penyebabnya. Mungkin jadi tersadar sehabis menonton “An Inconvenient Truth”, atau mungkin setelah menonton “Earth”. Atau mungkin karena seringnya tayangan-tayangan dan iklan-iklan di TV yang semakin santer menyisipkan isu-isu lingkungan di dalamnya. Ya…gue nggak nyalahin juga sih…. Asal tidak menelannya secara mentah dan bulat-bulat, tentu saja hal ini patut mendapat dukungan secara penuh. Meskipun tidak sedikit dari para kapitalis dunia yang memanfaatkan isu lingkungan ini (dan melakukan komodifikasi terhadapnya), tapi banyak juga yang dengan sadar dan secara sukarela telah aktif bergerak dalam melakukan “gerakan hijau” ini. Tapi ya itu tadi…jangan sampai salah kaprah.

Di suatu hari nan santai dan menyenangkan, gue menonton sebuah acara di salah satu stasiun TV untuk anak muda. Sebut saja MTV (nama sebenarnya). Kalo nggak salah, acaranya yang ngikutin kegiatan para pesohor selama seharian penuh itu loh… Nah, kali ini, acara tersebut menayangkan kegiatan harian sebuah band. Sebut saja band itu Dygta (juga nama sebenarnya). Ada satu bagian yang agak aneh dan mencengangkan terjadi. Ceritanya, band itu akan melakukan penanaman pohon untuk peringatan Hari Bumi tanggal 22 April. Nah, dengan PeDe-nya mereka dan salah seorang petinggi record label berpose di depan kamera dan berkata “demi mencegah global warming…kita akan menanam pohon nih…. Doain ya biar cepet tumbuh gede!”. Tapi apa yang terjadi…. Setelah gue perhatiin…mereka dengan wajah gembira (entah sadar atau tidak) lalu menanam sebatang kecil tanaman semak! Jo! Semak gitu…! Gue juga baru tau, tuh tanaman lebih bagus dibanding dengan pohon Akasia. Weleh…weleh…mbok ya tanya-tanya dulu gitu mas…. Masa’ tanaman semak? Jangan-jangan ntar mereka akan bilang “global warming is cool!”, kayak si Cincha Lowra itu. Hadooh…. What the meaning, what the maksud…?

Ada satu lagi yang menurut gue sebenernya agak-agak “ganggu”. Entah kenapa, penggunaan batik yang semakin massal ini jadi sedikit aneh. Pernah gue lihat di salah satu TV swasta nasional, di sebuah acara kontes menyanyi, seluruh juri memakai batik. Sumpah! Males banget! Sebenernya ini menjadi suatu dilema besar buat gue: pro atau kontra. Di satu sisi, tentu gue bangga karena banyak orang yang telah memakai batik, atau paling tidak, banyak yang telah aware akan keberadaan batik ini. Tapi ketika banyak yang pergi ke mal dengan baju batik… aduh, kayaknya… gimanaaa…gethow! Tiba-tiba batik masuk ke ranah pop culture. Dalam bayangan gue, batik seharusnya (dan memang begitulah seharusnya) merupakan suatu high culture. Tidak seharusnya overexposed terjadi pada batik-batik itu. Yah… paling nggak, kalo banyak yang pake batik di acara kawinan atau kondangan mah, masih oke-oke aja. Ini… sekarang, nggak di mal, nggak di pasar, semua pake batik. Bahkan, tiba-tiba di sepanjang koridor jalan menuju stasiun pun, para penjual konveksi tiba-tiba mengganti display baju dan kaos mereka dengan batik! Tapi, meskipun batik cetak kelas B (begitu kira-kira menurut seorang pembuat batik cap dan tulis ternama di Bandung) semakin diproduksi secara massal, kita tetap harus bangga dengan budaya Indonesia yang satu ini. Mending kayak gini kan? Daripada negara tetangga kita Males-Malaysia yang memakainya secara massal…. Apapun itu, demi budaya lokal, gue akan tetep mendukung. Kalo gitu…besok jahit baju batik ah! Masa’ pake punya bokap mulu kalo kondangan…hehehe.

(This Is Not An) Art Of Choosing

What makes human, human? It is because they have brain....

Seorang motivator yang sangat menginspirasi saya pernah berkata, manusia diciptakan untuk bisa belajar dari semua yang dialaminya. Kita harus menghadapi dan memikul beban yang diberikan kepada kita. Beban bukanlah untuk dihindari. Dari situlah kita bisa menjadi kuat, dan semakin kuat. Pernah dengar apa yang dialami oleh seorang astronot ketika berada di luar angkasa? Ketika hidup di ruang hampa tanpa gaya gravitasi, yang terjadi adalah otot mereka melemah, dan tulang-tulang mereka pun mengecil. Kita bisa belajar dari analogi ini. Ketika seseorang hidup tanpa beban, dia melemah. Dia tidak sadar bahwa dirinya sebenarnya sedang memperkecil dan semakin mengurangi daya (tahan) mereka terhadap lingkungannya.

Ketika kita menganggap sesuatu adalah masalah bagi kita, terutama dengan menganggapnya sebagai masalah yang berkepanjangan, sesungguhnya kita sedang terjebak dengan batasan-batasan dalam diri kita yang telah kita buat. Yang harus kita lakukan sesungguhnya adalah belajar dari masalah itu. Pelajari sesuatu darinya agar dapat tumbuh menjadi lebih besar dari batasan-batasan yang kita buat. Pada akhirnya, pilihan harus dibuat. Berlarut-larut di dalamnya, atau belajar darinya.

Salah satu cerita menginspirasi yang hingga kini terus melekat dalam ingatan saya adalah cerita tentang “Si Lebai malang”. Saya membacanya (kalau tidak salah) ketika kelas 3 atau 4 SD. Ceritanya, Lebai (*adalah sebuah nama) yang tinggal di tengah-tengah perbatasan antara dua desa, mendapat kabar akan ada hajatan besar di kedua desa itu. Jarak antara kedua desa itu sangat jauh, sehingga, mau tidak mau, Lebai harus memilih akan pergi ke desa yang mana. Dia lalu memilih desa pertama. Saat pergi ke desa itu, Lebai mendapati bahwa makanan yang disajikan adalah daging ayam, dan bukan daging kambing atau domba seperti yang biasanya disajikan di hajatan-hajatan besar. Pikirnya, di desa kedua pasti lebih ramai dan mewah makanannya. Maka, alih-alih menghadiri hajatan dan makan di desa pertama, Lebai malah pergi menuju ke desa kedua, padahal jarak tempuhnya akan menjadi dua kali lebih lama. Perjalanan panjang pun di tempuh. Desa kedua sudah terlihat di depan. Saat sampai, ternyata acara hajatannya tidak begitu mewah. Makanan yang disajikan pun hanya seadanya, berupa lauk telur, tahu dan tempe. Ternyata, sang kepala desa lebih memilih merayakannya secara sederhana, agar uangnya bisa disumbangkan kepada warga yang tidak berkecukupan. Merasa kecewa, Lebai pun berpikir. Dia lalu memutuskan untuk kembali lagi ke desa pertama, untuk makan daging ayam. Perjalanan jauh dan melelahkan pun kembali ditempuhnya hingga tenaganya terkuras habis. Namun apa yang terjadi? Ketika sampai di desa pertama, ternyata hajatan yang disambanginya telah selesai. Para tamu telah pulang dan makanan pun ludes tak bersisa. Si Lebai malang gigit jari, menyesali dirinya.

Pilihan harus dibuat. Setiap pilihan berada dalam tingkatan posisi yang sama. Pilihan yang satu tidaklah lebih baik dari yang lainnya. Ketika mengambil suatu pilihan di mana kita segera merasakan kesenangan di dalamnya, dan jika kita terbuai dengannya, sesungguhnya itu adalah pelemahan mental kita. Hingga pada saatnya, saat kita terjatuh secara tiba-tiba, kita tidak akan siap. Sementara jika kita mengambil pilihan lain, di mana setelah menjalaninya ternyata merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan, sesungguhnya itu adalah proses penguatan mental kita. Pada saatnya nanti, jika kita telah siap dan mampu beradaptasi dengan belajar dari hal-hal di dalamnya, kita akan mampu bangkit dengan kekuatan hasil proses kita belajar.

Cerita Lebai malang mengingatkan saya kepada seseorang yang saya kenal. Berada di antara dua pilihan, ternyata tidak serta merta membuatnya belajar akan sesuatu. Dia mau yang “ini”, tapi juga mau yang “itu”. Padahal, dalam hal ini, pilihan harus mutlak diambil. Namun, ia terlalu berlama-lama dan larut dalam “kesadaran palsu”. Akhirnya, seperti yang sudah saya bayangkan, ia pun tidak mendapatkan keduanya. Yah, paling tidak setelah ini ia bisa mengambil pelajaran. Itu juga kalau ia mau belajar dari hal yang dialaminya.

The Marching March v3.0

March #3: Amazing March

 

Sebuah kalimat yang mengawali hari kebebasan terhadap tekanan soal-soal yang tidak imajiner kali ini adalah “Cukup sudah yang serius-serius!”. Meskipun dalam kuantitas yang kecil, mereka benar-benar membuat pusing! Deadline yang teramat sempit, ditambah proposal-proposal yang harus tepat waktu, sangat memabukkan! Belum lagi persiapan menuju first day exam. Belum lagi ini... Belum lagi itu... Belum, belum, belum... (semakin mengulang-ulang kata “belum”, tiba-tiba saya merasa aneh dan asing terhadap kata “belum”. Kenapa “belum” artinya “belum”?) Aarrgghh! Dentuman-dentuman bak meriam yang menghantam itu benar-benar merupakan penyeimbang bagi keadaan yang sebaliknya. Harga yang pantas untuk membayar semua keberuntungan di bulan ini.

Tetapi, di luar itu semua, Maret ini adalah gudangnya kejadian-kejadian yang terjadi secara menakjubkan. Bahkan untuk memastikan ini semua adalah fakta atau fiktif di hidup gue, agak cukup sulit. Berikut terlampir rinciannya berdasarkan urutan hari kejadian.

Pertama, di bulan inilah akhirnya (setelah hampir setahun ini menggunakan busway) gue berhasil sampe di halte Pasar Rebo sebelum 07.00 AM. Padahal hampir setiap harinya (kecuali di saat ber-KRL ria pada siang hari), gue membuka pagar rumah dan berjalan keluar menuju jalanan sekitar 06.05 AM (terkadang sekitar 05.50 AM malah!). But, it took more than an hour to get me there! Gila, tua di jalan gue! Tapi hari itu, meskipun berangkat sekitar jam 6, gue berhasil membayar tiket IDR2000 pada 06.58 AM. Nyaris! (Sekedar informasi, tarif pukul 05.00 s.d. 07.00 AM adalah IDR2,000, dan 07.00 AM s.d. 10.00 PM adalah IDR3,500. Bukannya apa-apa, tapi gue pengen aja mengoleksi tiket IDR2,000 yang berwarna lebih “nge-jreng” itu untuk dipamerkan kepada teman-teman busway-er gue yang nggak bisa datang pagi. Wahahahaha! Norak).

Kedua, di hari-H ujian Titut, untuk menghindari telat, gue berangkat pukul 05.35 AM. Alhasil, pembayaran IDR2,000 untuk tiket itu kembali terjadi (wahahaha!). Ditambah lagi, hari itu bus dalam keadaan kosong-hampir-melompong!. Tidak bisa dipercaya. Ditambah lagi, bus (yang tidak tertulis “PGC-Ancol” di kaca depannya) itu melenggang kangkung begitu saja ketika sampai di Kampung Melayu, dan langsung tancap gas menuju Senen. Yihaa! Lebih tidak bisa dipercaya (P.S: Buat ibu-ibu di sebelah kanan depan saya waktu itu, maaf ya Bu, boleh kan saya norak sekali-sekali dan pengen duduk terus sampe turun... Sekali lagi, maafkan saya... Nggak lagi-lagi deh. Suerr!).

Ketiga, di ujian hari kedua, percaya atau tidak, tapi soal MPK di depan gue waktu itu adalah (benar-benar) tesis yang sama yang pernah gue baca seminggu lalu. Nande kore?!

Keempat, secara mendadak, album “Across The Universe: Music From The Motion Picture” pun datang dengan sendirinya dengan perantaraan seorang teman (thanks a lot, Phan!).

Kelima, jaket Johnny Walker yang gue idam-idamkan selama ini akhirnya tiba dalam genggaman (baca FHM edisi April 2008).

Keenam, hal terakhir, the very surprising thing is... aku berhasil menemukan dia! Dia yang selama ini menghilang dan tak terdeteksi. I just can’t believe it! Yah, paling tidak kita sekarang sudah terhubung. Itu saja sudah cukup. Secara statistik, kemungkinan hal ini terjadi adalah sejuta banding satu! Sulit dipercaya. Tapi, mengingat pencarian virtual tiada henti yang telah berlangsung, ternyata data statistik itu secara langsung melakukan pembenaran terhadap probabilitas yang ada. Terima kasih kepada mesin pencari itu. Didn't I tell you everything is possible in this déjà vu? Well, you better believe it.

The Marching March v2.0

March #2: Inspiring March


Maret termasuk bulan favorit gue selain Desember. Kenapa? Karena di dalamnya terdapat hari-hari yang setiap kali tiba padanya, membuat gue menyadari akan sesuatu, atau paling tidak cukup senang bisa berinteraksi dengannya. Ada beberapa “Hari Nasional” di bulan Maret ini yang mungkin tidak begitu populer (ya, memang karena pada hari itu bukanlah hari libur dengan tanggal merah). Salah satu yang cukup menyenangkan bagi gue adalah adanya Hari Musik Nasional pada tanggal 9 Maret. Cukup membanggakan ketika mengetahui pemerintah Indonesia sudah mulai menyadari bahwa musik di negeri ini mempunyai suatu potensi besar. Tapi dalam prakteknya, dukungan terhadap musik dan musisi Indonesia memang belum maksimal. Bagimana tidak, bahkan sampai sekarang pembajakan musik lokal masih marak (P.S: Mohon maaf bapak-bapak pejabat, saya sebenarnya termasuk pengkonsumsi bajakan...tapi cuma bajakan album-album luar loh. Selebihnya, untuk album musisi lokal terutama yang di indie scene, saya beli CD aslinya kok. Hehehe).

Masalah di industri musik Indonesia sebenarnya hampir mirip dengan masalah di dunia pertelevisian dan perfilman kita (film akan dibahas kemudian). Semua major label hanya mengeluarkan produknya yang “itu-itu saja”. Rasanya, gejala ini muncul setelah masa krisis ekonomi. Meskipun industri ini bisa bertahan, tapi semakin lama malah semakin menurunkan (atau memonotonkan?) kualitas produknya. Atas nama penyelamatan pangsa pasar, para produser major label kemudian konsisten dalam merilis produk-produknya berupa musik pop ringan tanpa adanya variasi produk yang cukup berarti. Tapi untung saja, para pemusik dan produser dari scene indie kemudian menyelamatkan pasar. Kenapa “menyelamatkan”? Karena musik-musik ini memang menawarkan berbagai jenis alternatif suara-suara yang bisa didengar. Tapi memang mereka hanya mampu menyelamatkan (dalam artian benar-benar menyelamatkan) para penikmat musik dalam skala terbatas saja. Akses terhadap produk alternatif ini belum “dari Sabang sampai Merauke”. Masih banyak penduduk Indonesia yang “dibodohi” oleh hegemoni industri musik besar. Yang menyedihkan, pembodohan pasar ini tetap berlangsung hingga sekarang. Tapi gue secara pribadi bersyukur karena bisa punya akses ke scene ini. Bayangkan kalau gue termasuk di dalam daftar berjuta-juta orang Indonesia yang mau-maunya dibodohi industri besar. Waks! Tapi dalam hal ini, gue bukan sekedar mencaci maki musik-musik hasil keluaran major label kok. Sedikit banyak, gue juga mengikuti perkembangan mereka dan sesekali mengambil segi-segi positif yang ada (termasuk masalah sound), meskipun selama ini bisa dihitung dengan jari.

Yang sedikit mengganjal adalah, pada perjalanannya, justru minor label inilah yang banyak berperan di dalam distribusi musik Indonesia ke luar negeri. Disaat label besar seperti Sony BMG dan Musica sibuk menyebarkan produk “musik pasar”-nya ke seluruh pelosok Indonesia demi platinum, label-label kecil macam Aksara dan FastForward telah berhasil memasarkan produk-produk musik mereka hingga ke Amerika, Australia dan Eropa. Ketika Radja dan Peterpan paling jauh menjual album mereka di Malaysia atau Singapura, album White Shoes & The Couples Company sudah dirilis di Amerika, juga album The S.I.G.I.T. yang sudah bisa dibeli di toko-toko musik di Australia. Mungkin sedikit pengecualian bagi Nidji, yang lagunya dipakai dalam serial Heroes. Tapi itupun kurang jelas, ke wilayah mana saja distribusi album berbahasa Inggris mereka.

Ada semacam ironi disaat label besar hanya berkutat di cakupan regional yang kecil, sementara label kecil sudah merangkul sebagian wilayah dunia. Sebenarnya tidak susah dalam proses internasionalisasi musik lokal kita. Cukup dengan berpartisipasi dalam budaya konvergensi yang telah mendunia. Kata kuncinya adalah “digital media”. Salut kepada “nexxG” dan “equinoxDMD” atas usaha mereka dalam pendistribusian musik lokal kita secara digital. Portal “importmusik” juga patut diacungi jempol atas usahanya dalam menggalakkan digital content.

Hampir sama dengan masalah di dunia musik tanah air, dunia pertelevisian dan perfilman juga dalam kondisi yang memprihatinkan. Mulai dari sinetron-sinetron jiplakan yang asal jeplak, sinetron cinta berjudul nama seseorang, sinetron mistis dubbing-dubbing-an yang lebih nggak jelas, hingga ke film-film hantu norak berbudget rendah sebagai pemuas pasar. Judul terakhir yang semakin memper-norak status rumah produksi milik orang India itu adalah film yang “ngepet-ngepet” itu. Gila aja, apa nggak ada judul lain, nyet? Minimal perbagus lah judul-judul film anda itu. Judulnya dulu aja deh.... Akan tidak menyenangkan kalau tiba-tiba saya muntah di angkot yang saya tumpangi setelah melihat billboard film-film anda yang segede-gede Gaban itu di tengah jalan, bukan?

Yah, mudah-mudahan Hari Film Nasional yang jatuh pada tanggal 30 Maret (tahun) ini bisa menjadi titik balik kebangkitan film-film Indonesia yang bermutu. Terlebih lagi, tahun 2008 ini adalah perayaan satu abad Hari Kebangkitan Nasional. Mudah-mudahan segala macam bentuk industri kreatif di Indonesia mulai diperhitungkan keberadaannya dalam pembentukan ekonomi nasional. Sejauh ini, apalagi setelah melihat judul-judul seperti “Perempuan Punya Cerita” dan “Mereka Bilang Saya Monyet”, rasa optimis itu masih ada. Selebihnya, tinggal menunggu waktu saja sampai calon-calon film berkualitas itu muncul.

P.S: March 22nd is my dad’s birthday. That makes March more special. Well, happy birthday dad! Wish you all the best. I love you.... (you too mom...)

The Marching March v1.0

 

March #1: Singing March

 

Maybe I will never be all the things that I want to be.

Now It's not the time to cry.

Now it's time to find out why.

I think you're the same as me.

We see things they'll never see.

You and I are gonna live forever.

 

Maybe I just want to fly.

Want to live but don't want to die.

Maybe I just want to breath.

Maybe I just don't believe.

Maybe you're the same as me.

We see things they'll never see.

You and I are gonna live forever.

Gonna live forever...

 

["Live Forever" by Oasis]

 

Potongan lirik diatas sangat mewakili perasaan gue ketika mengetahui salah satu living legend di dunia musik Indonesia, Gito Rollies, meninggal dunia. Tidak heran, lirik lagu “Live Forever” memang didedikasikan Noel Gallagher untuk para musisi yang cukup berpengaruh, seperti John Lennon, Jimi Hendrix, dan lain-lain, yang telah meninggal dunia.

 

Tanggal 28 Februari lalu, entah kenapa malam itu gue tiba-tiba pengen nonton TV. Padahal biasanya, begitu sampe di rumah, gue langsung masuk kamar. "Menghempaskan tubuh yang letih di tempat tidur dan berbaring dengan nyaman" adalah ritual yang selalu gue lakukan. Berita itu pertama kali terbaca di running text di sebuah stasiun TV. Sejenak, memang ada perasaan tidak percaya. Tapi setelah diingat-ingat, memang pernah ada berita yang melaporkan bahwa beliau sedang dirawat akibat kanker getah bening-nya. Maka kemudian, pembenaran atasnya pun terjadi.

 

Meski nggak punya koleksi albumnya secara lengkap (cuma ada beberapa kaset dari tahun 90-an punya nyokap), sedikit banyak gue juga mendengarkan musik-musik karya mantan personil The Rollies ini. Banyak hal-hal dari beliau yang menginspirasi. Berawal dari lirik-lirik lagunya yang cheesy, hingga menjadi lebih berisi, sampai akhirnya menjadi lebih dalam dan penuh muatan spiritual. Tidak banyak para musisi tanah air yang seperti beliau. Untuk bisa menyebarkan “sesuatu” yang dapat memberi ilham kepada orang lain, menurut gue tidaklah mudah. Jadi, jika harus menyebutkan musisi lokal yang menginspirasi gue secara spiritual, maka yang tersebut adalah Bimbo, Gito Rollies dan Opick.

 

Selamat jalan Om Bangun Soegito. Bulan Maret ini akan selalu merindukanmu. Bulan Maret ini tetap akan bernyanyi untukmu. Semangatmu akan tetap hidup selamanya. Semoga seluruh amal ibadahmu diterima di sisi-Nya. Amin.

Rise And Fall Of The New Order

Masih terekam dalam ingatan saya ketika itu, di suatu hari di bulan November 1988. Di tengah hari yang terik, dengan memakai seragam pramuka lengkap, saya berjalan menuju rumah seorang teman untuk berangkat bersama ke bandara Komoro. Setelah menjemput satu-persatu, dan setelah seluruh personil geng lengkap, kami berempat langsung berjalan ke tempat tujuan. Yap, di tengah hari yang sangat panas itu kami berjalan kaki sejauh hampir 1 kilometer menuju bandar udara Komoro, satu-satunya bandara komersil yang berada di kota Dili. Tidak heran, saat itu kami berjalan tanpa mengeluh, sebab orang nomor satu negeri ini (saat itu) akan datang ke kota kami. Setelah sampai di venue yang ditentukan guru kami, bendera merah-putih dari kertas minyak yang sebelumnya kami buat pun langsung kami keluarkan dari tas dengan penuh rasa bangga. Tidak lama menunggu, dari jauh lalu terlihat sebuah pesawat tiba mendarat di landasan. Selang beberapa waktu, rombongan kendaraan tim presidensial pun lewat. Kami beserta murid-murid SD se-kota Dili lainnya mengibarkan bendera kecil kami. Tertawa kecil.  

Mungkin hanya itu pengalaman saya bertemu secara langsung dengan mantan orang nomor satu di negeri ini, meskipun hanya selintas. Memang, di masanya, kita dapat merasakan secara langsung keadaan yang stabil di berbagai bidang. Mengutip pendapat seorang remaja masa kini mengenai Soeharto, "Pak Harto adalah satu-satunya orang yang bisa bikin gue beli permen seratus dapet seraup," ujarnya. Namun, tentu saja kita juga baru sadar apa yang terjadi di belakang hal-hal yang memanjakan kita tersebut. Mulai dari hutang-hutang luar negeri (yang baru terasa mencekik), segala bentuk korupsi-kolusi-nepotisme yang merugikan (yang akibatnya pun baru terasa sekarang, dengan budaya tersebut menjadi sangat berakar), Militerisme yang semena-mena (meskipun dipermanis dengan “ABRI Masuk Desa”-nya) dan banyak hal-hal lain yang (mudah-mudahan) kita tahu.

 

Saat berita ramai memberitakan mengenai kondisi kesehatan Pak Harto yang semakin kritis, tiba-tiba saya menjadi dilema. Empati atau apatis? Namun begitu, dia hanyalah manusia. Mereka, kita dan saya tidak dapat begitu saja melakukan penghakiman. Terlepas dari hal-hal di atas, jika ditanya apa yang tidak saya suka dari Soeharto, jawabannya adalah: Laporan Khusus TVRI!

 

Selamat jalan Bapak Pembangunan. Saya rasa engkau sudah cukup banyak tahu mengenai konsekuensi-konsekuensi yang nantinya akan berbalik padamu, seperti layaknya kita semua yang akan menerima ganjaran atas perbuatan kita semasa di dunia. Mudah-mudahan sisa-sisa orang-orang Orde Baru, atau yang berkaitan dan masih setia terhadapnya, akan segera melepaskan “atribut”-nya dan kembali ke jalur yang semestinya.

 

Bagaimanapun juga, tanggal 28 Januari 2008 lalu, akan menjadi sejarah yang semakin mengukuhkan runtuhnya kerajaan Orba-Cendana. Namun, sejenak saya berspekulasi. Apakah benar-benar runtuh? Ataukah akan muncul raja baru dari klan ini (atau simpatisannya)?

Bureaucracy From Hell

Adalah sesuatu yang sangat menyebalkan ketika menemukan bahwa ekspektasi kita terhadap sesuatu tidak sesuai. Saat masuk dan diterima di sebuah institusi pendidikan ternama di Indonesia (ingat, mereka memakai kata "Indonesia"), saya pikir segala sesuatu mengenai perihal "urus-mengurus" merupakan hal yang tidak akan dipersulit -seperti pada institusi pemerintahan pada umumnya- dan berjalan biasa saja. Paling tidak mereka bisa menjadi contoh yang baik. Namun harapan saya terhadap institusi pendidikan yang satu ini tiba-tiba turun pada level "Meragukan: Terkadang mengada-ada". Memang, untuk hal yang satu ini saya tidak bisa men-generalisasi keadaan yang terjadi. Tapi bagaimana bisa saya diam saja ketika mengalami hal tidak menyenangkan ini.

Dari awal, bahkan saat akan menjadi calon penghuni institusi tersebut, sang birokrasi itu jugalah yang sempat merepotkan. Pemberian informasi mengenai jadwal yang nantinya akan saya jalankan, ternyata tidak becus. "Dioper-oper" mungkin merupakan kata yang umum dan paling sering dirasakan oleh para korban yang terkadang pasrah terhadapnya. Proses "kontak sana-kontak sini" pun saya jalankan. Akhirnya kontak terakhir yang saya tuju memberikan kepastian (menurutnya). Sudah selesai? Ternyata belum. Saat telah masuk dan berada di dalam institusi tersebut, ternyata kepastian (jadwal dan waktu yang akan saya jalankan) -yang menurut oknum tersebut merupakan sesuatu yang pasti- itu hanya sebatas klaim semata. Telah terjadi kesalahan. Menurut mereka, itu kesalahpahaman. Menurut saya, itu kesalahan mereka. Maka, saya pun harus berjuang membenarkan "posisi" saya agar bisa sesuai dengan jadwal dan waktu yang saya inginkan.

Proses "urus-mengurus" pada tingkatan "wajar" telah saya jalankan dengan ikhlas. Seharusnya, secara teori mereka, saya hanya tinggal menunggu proses perbaikan untuk pemindahan "posisi" jadwal dan waktu saya. Namun, tiga bulan berlalu, ternyata database online tidak berkata demikian. Data-data yang harusnya sudah dirubah dan disesuaikan, ternyata masih belum tersentuh. Mendatangi secara langsung para "pejabat" birokrasi, membuat saya berharap bahwa (mungkin) kesalahan yang terjadi bisa segera dianulir. Tapi, tampaknya saya tidak bisa segera bernapas lega. Copy dari surat tiga rangkap yang saya bawa, masih harus mengalami nasib yang menyedihkan.

Berikut (semacam) percakapan yang terjadi, di tiap gedung yang saya datangi, disusun berdasarkan urutan kedatangan saya antar gedung.

  • Birokrat gedung A: “Oh, surat yang anda bawa ini harus dibawa ke bagian B. Merekalah yang bisa merubah data-data anda.”
  • Birokrat gedung B: “Wah, kami tidak berwenang merubah data anda. Yang berhak merubah adalah orang di bagian A.”
  • Birokrat gedung A: “Ini kami buatkan nota dari pimpinan kami untuk dibawa ke bagian B. Surat anda dibawa saja ke sana.”
  • Birokrat gedung B: “Tidak bisa pak. Kami tidak punya kewenangan merubah. Lagi pula …@$@#@%*@&@(*&*@*%*@&#^$%#*#(#^#@&@$@#...” (Baca: alasan tidak masuk akal).
  • Birokrat gedung A: “Kalau begitu, biar surat anda kami tangani. Ditinggal saja, nanti akan kami berikan langsung ke bagian B, dengan supervisi pimpinan kami. Paling lama empat hari lagi data anda di database online pasti sudah berubah. Pokoknya…@*#&$^%@#^$*&^@#$^%&*$@%@@*(###%$#@...” (Baca: janji-janji yang diucapkan dengan berapi-api).

Sebulan kemudian, setelah saya menemukan bahwa database online belum juga berubah, terjadi (semacam) percakapan lagi di gedung-gedung yang saya datangi. Kali ini diperparah dengan adanya asumsi bahwa surat saya telah dikirim, namun entah kemana. Mungkin tetap dikirim, tapi kembali di alur birokrasi awal (yang mungkin hanya dibaca saat ada waktu senggang, lalu suratnya segera dilupakan).

  • Birokrat gedung A: “Wah, untuk bisa mengurus kepindahan dan perubahan database online, perlu surat-surat yang nantinya diserahkan ke bagian B.” (Red: surat-surat yang sama, yang sebulan yang lalu saya serahkan).
  • Birokrat gedung B: “Kita tidak bisa begitu saja merubah data-data anda. Diperlukan adanya surat-surat yang isinya menyetujui perubahan data dengan mencantumkan data yang baru (Baca: surat-surat yang sama, yang sebulan yang lalu saya serahkan, dan mempunyai isi sama persis seperti yang dimaksud birokrat B). Itu juga bukan kita yang bisa merubah datanya. Orang bagian C yang bisa melakukan perubahan.” (Red: terjadi perubahan penunjukan kewenangan, yang menurut saya sama sekali tidak berhubungan).

Dua hari kemudian, setelah saya bersusah payah mendapatkan copy surat tiga rangkap yang sama, terjadi (semacam) percakapan yang lagi-lagi juga berlangsung di gedung yang saya datangi. Kali ini dengan langsung mendatangi si pemberi janji.

  • Birokrat gedung B: “Setelah saya cek, ternyata data anda belum berubah. Tunggu disini, staf saya akan membawa surat anda ke bagian A.”

Sekitar 15 menit kemudian, (semacam) percakapan inilah yang terjadi.

  • Birokrat gedung B: “Data-data anda telah selesai dirubah. Ini sudah saya print-kan data-data baru anda dari database online. Nah, sudah berubah kan?”

Saya tidak tahu pasti, apakah setiap usaha untuk mempercepat birokrasi adalah seperti itu (selain dengan pemberian gratifikasi)? Apakah perlu didatangi langsung untuk ketiga kalinya hanya untuk memastikan alur birokrasi yang kita jalani cacat atau tidak? Apakah perlu kita bertutur ketus, padahal hal tersebut seharusnya tidak diperlukan? Bila jawabannya “ya”, kasihan sekali wahai engkau para korban cacat birokrasi. Tapi bila para oknum birokrat tersebut memilih berperan sebagai tokoh protagonis dalam drama seri berjudul “Mendukung Birokrasi Neraka”, maka saya dengan sangat senang hati akan memilih tokoh antagonis, yang akan selalu senewen, sinis, marah, jahat dan tidak menerima keberadaan dan kesenangan para tokoh “baik” tersebut. Maka berhati-hatilah kalian, saya akan menghalalkan segala cara.

Ket:
* "Jadwal dan waktu": berhubungan dengan pilihan kelas untuk program studi yang akan diambil.



~ SELAMAT TAHUN BARU 1 MUHARRAM 1429 H ~

We Are Pop! vol. 3: The Recall

Awesome! Kata "Spartacus" lagi-lagi harus saya gunakan untuk menentukan level craz-o-meter, yang mengukur tingkat kegilaan event ini. Meskipun pada awalnya tidak banyak ekspektasi yang saya bawa ketika akan mendatangi venue acara tahunan ke-3 "We Are Pop!" yang diadakan pada 30 Desember kemarin. Selain perkiraan tentang band-band penampil yang "itu-itu saja", gaung akan acara tersebut juga kurang terlalu terdengar. Tapi ternyata saya salah! Crowd yang hampir menutupi halaman tempat venue berlangsung ternyata membuktikan bahwa "We Are Pop! vol. 3" kali ini sangat disayangkan jika dilewatkan. Line-up band-band yang tampil adalah Efek Rumah Kaca, Ballads Of The Cliche, Monkey To Millionaire, Hazel, Tunas Bangsa Symphony, Cascade, Jude, dan New Ride.

Tiba sekitar pukul 18.15 WIB, dan melewatkan beberapa band di awal, tidak membuat saya menyesal. Right on time, Monkey To Millionaire sedang beraksi. Jujur, aksi merekalah yang saya tunggu, selain Efek Rumah Kaca tentunya. Memainkan lagu-lagu up beat bernuansa powerpop, performa mereka yang menonjolkan harmonisasi vokal sangatlah handal. Setelah setlist mereka selesai dimainkan, kini giliran Ballads Of The Cliche (BOTC). Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu berharap banyak pada BOTC. Mungkin karena musik folk-pop akustik yang biasa mereka bawakan, terkadang terdengar agak membosankan. Hampir saja meninggalkan panggung, tiba-tiba intro "Alright" milik Supergrass terdengar. Yap, hingga lagu selesai, saya tak beranjak. Mereka meng-covernya dengan ciamik. Tak disangka, ternyata kali ini mereka tampil dengan membawakan cover version lagu-lagu milik band-band yang berjaya di masa keemasan "British Invasion" era 90-an. Wah, favorit saya! Berikutnya, berurutan mereka membawakan "Unbelieveable"-nya EMF, "Every Me Every You"-nya Placebo, "Disco 2000"-nya Pulp, dan terakhir "Country House" milik Blur. Wah wah, bisa dibayangkan rasa puas yang didapatkan anak-anak indies angkatan 90-an yang semasa SMP/SMU-nya sangat terpengaruh band-band diatas. Alhasil hingga setlist terakhir, mata saya tertuju ke arah panggung menikmati lagu-lagu cover yang mereka bawakan, sambil sesekali melirik ke arah keyboardis mereka. Kawaii ne..! =D Overall penampilan BOTC dahsyat dan diluar dugaan. Biasa memakai sound gitar akustik sebagai pengiring, kini mereka tampil dengan perlengkapan efek pemanis distorsi overdrive sound british rock.

Tidak banyak dari band-band yang tampil malam itu yang benar-benar outstanding. Berikutnya, hingga akhir acara (sebelum penampilan pamungkas dari Efek Rumah Kaca), hanya ada sebuah band asal Bandung yang menarik perhatian saya. Cascade. Musik shoegaze yang mereka tampilkan benar-benar membius para penonton. Kombinasi dua gitar dengan sound delay-nya cukup tertata rapi dan tidak bertabrakan satu sama lain. Hentakan drum yang "penuh" dan "ramai" juga turut membawa turun-naik emosi penonton dengan membuat beat-beat ketukan yang edgy ditemani dengan sound bass yang sangat "berisi". Benar-benar membuat saya dilema dan berpikir keras untuk menentukan mana yang paling dahsyat antara Cascade atau Efek Rumah Kaca. Namun saya tetap menyimpan jawaban atas pertanyaan ini hingga akhir acara. Membawakan karya-karya mereka sendiri, band yang baru kali ini bermain di Jakarta ini mendapat sambutan hangat dari penonton. Lima lagu yang mereka bawakan ternyata belum mampu memuaskan para penikmat musik cuttingedge yang datang. Alhasil, encore yang diteriakkan memaksa mereka membawakan satu lagu tambahan lagi. Dan... Sempurna! Riuh penonton dan tepuk tangan serasa tak henti-hentinya saat mengakhiri setlist panggung mereka. Sayang sekali, belum ada EP atau LP dari Cascade yang bisa dinikmati atau diputar berulang-ulang untuk sekedar mendengarkan kembali karya-karya mereka yang brilian.

Hampir tiba di penghujung acara, band utama yang menjadi pamungkas adalah Efek Rumah Kaca. Aksi mereka yang akhir-akhir ini mendapat banyak perhatian, sejak dirilisnya album pertama mereka baru-baru ini, membuat barisan venue tiba-tiba merapat ke depan. Sound-sound gitar delay yang dipadukan vokalisasi falseto sang vokalis, Cholil, membuat penonton tersihir diam dan sesekali menyanyikan lirik-lirik lagu mereka yang penuh arti. Track-track handal seperti "Insomnia" dan "Desember" dibawakan dengan ciamik. Favorit saya adalah "Di Udara". Liriknya yang bercerita tentang pembunuhan almarhum Munir benar-benar sangat dalam. Lirik tentang tragedi di pesawat udara itu memberikan pesan bahwa semangat membela hak asasi tak akan pernah mati. Meskipun saat itu kondisi sang vokalis tidak sedang dalam keadaan fit, namun Efek Rumah Kaca memberikan penampilan mereka secara maksimal. Masih terlintas dalam ingatan saat pertama kali melihat penampilan mereka di awal tahun 2006, jauh sebelum album mereka keluar. Tampaknya kekompakan mereka dalam tiap performance benar-benar terjaga hingga kini. Penampilan mereka mengingatkan saya akan Jeff Buckley dan Radiohead. What a gig!

Overall, event ini sangat memuaskan. Benar-benar event penutup akhir tahun yang layak diberi empat jempol! Namun sayang, nilai minus event ini adalah pada tata cahaya panggung yang sangat minim. Beberapa orang yang akan merekam video terlihat enggan untuk meneruskan pendokumentasian aksi panggung beberapa band bagus, dan akhirnya hanya memakai kamera foto dengan lampu blitz sebagai penerang. Namun dibalik semua kekurangannya, acara ini merupakan penutup rangkaian event-event indie di penghujung tahun 2007 yang patut dipuji. Saya akan menantikan "We Are Pop! vol. 4" berikutnya.... Well, Happy New Year then!

The Missing

It was the fearful night of December 8th.
He was returning home from the studio late.
He had perseptively known that it wouldn't be nice.
Because in 1980, he paid the price.

John Lennon died.

With a Smith & Wesson 38,
John Lennon's life was no longer a debate.
He should have stayed at home,
He should have never cared,
And the man who took his life declared,

He said I just shot John Lennon.

What a sad and sorry and sickening sight.

["I Just Shot John Lennon" by The Cranberries]

Yap, ditemani lagu ini gw mengenang tahun ke-27 tewasnya John Lennon. Tidak terbayangkan, jika saja Lennon masih hidup, mungkin 23 hari lagi dia akan tampil sepanggung Sting, Brian May, atau bahkan Ozzy Osbourne untuk merayakan tahun baru. I wish... Baru aja gw pulang sehabis menonton sebuah acara konser Tribute To John Lennon. Suasana yang gw rasakan tak layaknya seperti baru kemarin The Beatles bubar. Euphoria audiens tak habis-habisnya dari awal hingga akhir acara. Melihat foto John, memang miris rasanya. Tak bisa dibayangkan, apa yang ada di pikiran Mark Chapman saat menembakkan pelurunya. Ya sudahlah...kata-kata tak banyak membantu...

Shimatta!

...untuk George juga...semoga kalian membentuk band baru ya..

Captive Of The Cosmic Ray

This is it...The happy hour!

It's a perfect day for letting go
For setting fire to bridges boats and other dreary worlds you know
To wake up with a smile without a doubt
To burst grin giggle bliss, skip, jump, sing and shout

It's a perfect day for kiss and swell
For rip-zipping button-popping kiss and well, there's loads of other stuff can make you well
For dancing like you can't hear the beat
and you don't give a further thought to things like feet

Let's get happy!

Sepertinya bulan November ini akan menjadi bulan yang menyenangkan. Bayangkan saja, bahkan sejak tanggal 1 kemarin, beberapa serangan "kryptonite of happiness" sudah mulai bertubi-tubi. Midtest yang mengiris-iris isi otak sudah mengurungkan niatnya untuk lebih menyiksa. Dual Core kesayangan yang tiba-tiba bermasalah sudah mulai mau untuk diajak berkomunikasi. Dell C400 tangguh yang suka berpetualang telah menemukan saudara kembarnya yang sudah lama terpisah. Eksplorasi tempat baru untuk berinvestasi telah dihentikan dengan telah ditemukannya ladang berlian. Portal pembawa harapan telah terbuka. Buah tangan dari lapangan telah tiba dengan mewah.

Dan hal paling spartacus yang pernah terjadi sejak Juli lalu adalah...

Saat telepon selular itu berbunyi...

Saat pesan dari si wanita Serigala Militia itu terbaca...

Sam-Dit are back in town!

Sinting! Edan! Hell yeah!

Semua itu terjadi di tanggal 1! Wheew...Aku senang sekali!

I'm very very totally happy right now!

The Bright Lights Are Coming! Yap, cahaya itu. Cahaya yang sudah terlalu redup untuk bisa dirasakan selama hampir dua tahun ini. Akhirnya doaku selama ini terjawab sudah. Akhirnya bisa juga merasakan kebodohan-kebodohan dan keganjilan-keganjilan tingkah laku para pesakitan, di tengah serangan serum pintar yang selama ini sudah mengalir di pembuluh darah. Hail to the dynamic duo! Tak ada lagi kata-kata yang bisa dipakai untuk menjelaskan gejala Hyper-Segmented-Exclusion Syndrome yang berlebihan ini. Cukup. Dengarkan saja. Rasakan saja.

Geez...This World Is Such A Groovy Place!

Interstellar Overdrive


Antara...

Hari ini dunia terasa mengecil
Begitu kecil hingga terhimpit
Dijejali arah yang tak bernaung
Dijenuhi ruang yang telah terabaikan

Hari ini dunia terasa melambat
Berputar lemah seakan terhambat
Berputar lemah semakin terhambat
Berputar lemah lalu terhenti

Lepas...
Tersentak...
Sadar...
Kembali...

[02.07.07]-[02.10.07]

One Decade Of Being Far Away From The Land

Wheew, it's been so long since I left that "you-know-what" land. Damn! Tak terasa September ini benar-benar sudah 10 tahun lebih. Hmm..gw inget, awal masuk SMU tahun ajaran 97/98, memakai seragam ex-SMP bawaan dengan terdapat lambang 3 strip biru (dimana tak ada satu SMP pun di kota ini yang mempunyai lambang di lengan baju seragam ala militer sebagai penanda tingkatan kelas). Alhasil, gw diberondong oleh berbagai pertanyaan. Huehehe... Akhirnya, setelah dapet kelas en-de-bre en-de-bre, jadilah diriku ketua kelas akibat asal SMP nan jauh di mato, dan lambang aneh itu! Wahahaha..what a memory!

By the way, anyway, busway...ini bener-bener sudah 10 tahun! 10 tahun, Jo! Jikalau kota itu tidak dilanda situasi yang tidak kondusif, gw bener-bener betah disana. Di jakarta, orang harus memilih saat mereka akan pergi ke gunung atau ke pantai. Tapi di sana, you can have them both! Berada di pantai, dengan pemandangan gunung di belakang. Yah, minimal barisan bukit yang tidak terlalu hijau lah...

Di saat orang-orang Jakarta sangat bersemangat menuju Ancol atau Anyer, gw males. Agak-agak kurang. Tak ada yang bisa menyamai pantai Liquisa, Pasir Putih atau Farol. Bayangkan, 10 menit ngebut naik sepeda dari rumah, kita bakal nyampe di Farol. Aduh..aduh..suasana kota tepi laut yang menyenangkan! Kota yang kecil, hingga orangtuamu akan mengenal setengah dari populasi penduduk yang pekerjaannya PNS dari Departemen pemerintah. Kota yang ramah, hingga berbagai macam etnis di Indonesia banyak yang datang dan saling berbaur. Hingga...tragedi itu terjadi. Tragedi Santa Cruz yang merubah segalanya! Awal dari merebaknya isu-isu politis yang merambah ke SARA. Awal dari pupusnya harapan akan kehidupan baru di kota itu. Merubah pandangan orang-orang pribumi terhadap keberadaan pendatang. Benar-benar berdampak pada seorang teman yang menjadi musuh! Ouch!

Huff...ya sudahlah...kota itu tak akan kembali...

But, it was so much fun back then... Masa-masa pertemanan yang bahkan tetap terjalin hingga saat ini (thanks to this Friendster thing..), hingga first crush yang kini tak terdeteksi (hehehe, seperti apa ya dirimu kini?). Trus..kuliner yang ngangenin, dari sate pak haji (yang segede-gede gaban), nasi goreng segitiga (believe me, they didn't put any soybean ketchup in it!), gule Kamin (beli seporsi, gratis seporsi..karena udah kenal) dan makanan-makanan lainnya yang "tinta maharani" a.k.a. tidak mahal, yang apabila dengan sangat niat gw sebutin, puasa gw hari ini bisa bermasalah...hehehe...

Yang pasti aku akan selalu merindukanmu, kotaku. Kota yang telah membuatkanku akte kelahiran dengan dua bahasa, Indonesia & Portugis. Kota yang mengenalkanku dengan alat musik pertamaku, keyboard. Kota yang mengajariku PC game untuk pertama kalinya, Digger. Kota yang tak akan pernah hilang dari ingatan...kota Dili-ku. Thanks to Rita Effendi who sung "Januari Di Kota Dili". What a song! Sampai bertemu lagi kota Dili-ku. I miss you badly.

"Ouch!" Of The Day

06.30 AM : Kepala kepentok pintu sehabis bangun tidur terburu-buru.

06.44 AM : Mandi bebek secara kilat karena terlambat harus cabut ke rumah sakit.

07.00 AM : Baru nyadar kalo udah bejendol gede. >,<

10.00 AM : Membawa IDR12.725.000 dalam sebuah amplop yang disembunyikan di balik koran, dalam angkot. Deg-degan. Cemas. Berkeringat.

14.00 PM : Belajar mobil muter-muter sejam. Gas! Kopling! Rem! Gigi 2! Lurus! Pelan-pelan..

15.04 PM : Menuju bank. Tutup.

15.55 PM : Ditelpon nyokap. Ngomel-ngomel karena ga ngasi kabar masalah duitnya. Dikira dirampok di tengah jalan. Sempet nelpon polisi segala! (Sorry mom...)

Huff...what a long day...

Be Discipline.

Theme From An Imaginary Film

Chapter 1:


Kemarin pagi, (07/08) saya melihat berita ringan di salah satu stasiun TV swasta. Seorang kakek di suatu daerah di Jawa Tengah ditemukan meninggal dunia karena kelaparan dan sakit. Sangat ironis, karena hal ini terjadi di depan kantor bupati. Dengan tidak bermaksud menyudutkan kepala wilayah daerah tersebut, saya benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa? Sekeras apapun saya menempatkan diri sebagai "orang-orang cuek yang tidak berkepentingan dengan diri kakek itu" pun, saya benar-benar tidak bisa. Adalah sebuah tanda tanya besar ketika orang-orang disekitar tempat kejadian tersebut baru berbondong-bondong meletakkan uang recehnya di sebuah kardus kecil saat sang kakek telah tergeletak tak bernyawa lagi. Sumpah serapah hampir keluar dari mulut saya.

Tidak bisakah ibu-ibu pejabat menyisihkan sepeser pun dari tas-tas mewahnya? Tidak bisakah bapak-bapak yang tergabung dalam klub-klub otomotif ekslusif mengikhlaskan uang kembalian dari biaya perawatan kendaraannya? Tidak bisakah anak-anak sekolah yang orangtuanya sangat berkecukupan menyisakan uang receh dari belanja wardrobe bermerek dan rave party-nya? Semua itu hanya untuk orang-orang yang bernasib kurang baik di sekitar mereka. Tahukah kalian sedang hidup dan tinggal dimana? Tidak perlu acara khusus ke panti-panti yang bermil-mil jauhnya. Dimana kita lewat, ada seseorang yang membutuhkan bantuan kita. Itu juga kalau kita aware dan sadar betul.


Lupakan nasionalisme era jaman perjuangan. Lupakan nasionalisme ala partai politik. Lupakan juga nasionalisme ala "tuntutan masa kini dengan keterpaksaan" lainnya. Asal dirimu dengan sukarela dengan cara apapun untuk menghargai (maksud saya, benar-benar menghargai) apapun di sekelilingmu, kamu tidak sadar bahwa dirimu sudah menjadi bagian darinya. Hargai lingkungan secara menyeluruh. Jaga masyarakatnya, jaga kelangsungan makhluk hidup-nya dan jaga sumberdaya alam yang terdapat didalamnya. Cukup itu saja. Maka secara tidak langsung, semangat ini akan bekerja secara positif meniadakan segala bentuk hal yang tidak kita inginkan. Jika rakyat bangsa ini saling menghargai atas dasar moral dan kebanggaannya terhadap negara Indonesia, akan bisa dipastikan tidak ada lagi kesengsaraan dalam bentuk apapun. Bukankah nasionalisme pada era perjuangan bertujuan menghapus segala bentuk penindasan dan penjajahan? Toh hal ini juga untuk kebaikan kita dan bangsa kita sendiri. Jadi mulailah bergerak.

 

Nasionalisme tidak harus patriotis. Respect terhadap hal-hal yang sudah semestinya, tidak akan merugikan. Dengan itu, kita akan takjub dibuatnya. Tidak ada lagi orang-orang lemah bertanya, ”Kenapa harus saya?”. Tidak ada lagi orang-orang kuat berkata, ”Siapa berikutnya?”. Artikanlah secara luas. Pada akhirnya, seperti sebuah subsistem sebab-akibat, kita semua akan benar-benar berjalan dengan lapang dan tenang.

 

Chapter 2:


Untuk sebatas nasionalisme ”ecek-ecek”, di bulan inilah minimal kita teringat kembali akan-nya. Ini bulan Agustus bung! Sudah hampir dua minggu berjalan kegiatan-kegiatan untuk memperingati kemerdekaan negara kita tercinta. Bahkan mungkin sudah terencana satu bulan yang lalu. Meskipun sulit menghilangkan semangat nasionalisme yang "sok nasionalis", kita mungkin tidak sadar bahwa saat kita sibuk mengurus berbagai macam perlombaan 17-an dengan sabar, kita sedang tulus ber-nasionalisme. Motivasinya? Tentu tidak ada motivasi khusus. Hanya ingin sekedar melihat anak-anak penerus bangsa ini merasakan kegembiraan di hari spesial ini. Syukur-syukur mereka bisa menjiwai semangat nasionalisme secara pantas dan berarti. Tentu saja kita juga tidak ingin mereka hanya bergelut dengan mal, game console, handphone tipe terbaru, band paling happening saat ini, kaos distro yang lagi tren atau hal-hal lain turunan dari budaya instan yang terjadi saat ini. Nasionalisme masa kini harus bisa membawa generasi sekarang ke arah perbaikan, peningkatan perubahan dan revolusi terhadap instan-isme dan individualisme yang anti sosial. Tentu saja ke arah positif.

 

Nasionalisme era perjuangan bukan untuk disimpan di kepala kita dan (sengaja) diingat-ingat terus saat upacara bendera. Simpanlah di dalam hati, maka engkau akan merasakannya. Klise, tapi saya yang tahun ini berusia seperempat abad setidaknya (sedikit) bisa melakukannya. Seperti mencintai seseorang, jangan cuma mengingat-ingat wajah dan ke-elokannya. Selami dirinya. Saat engkau merasa nyaman dengannya, bahkan di saat terburuk, saat itulah dirinya telah tersimpan di hatimu. Tulus.

 

What goes around, comes around.

End/Beginning

Menurut gw, Juli 2007 ini terasa sangat lama. Seperti 19 kali lipat lamanya dari bulan-bulan sebelumnya. Banyak hal terjadi. Banyak inspirasi muncul. Banyak, banyak, banyak (tiba-tiba jadi penasaran kenapa kata "banyak" dipakai untuk mengekspresikan jumlah yang banyak).

Kembali ke hal-hal yang terjadi di Juli ini, bahkan mereka benar-benar membawa gw ke turning point dimana harus memilih untuk kelangsungan pikiran dan jiwa gw. Kalo boleh dibilang, ini salah satu bulan paling mellow yang pernah gw alami (bahkan waktu menulis pun, playlist winamp gw berisi lagu-lagu bertempo tidak lebih dari 80 bpm). Kalo mau merasakan seperti apa perasaan gw (terutama hari ini), putarlah lagu "Linger" dari The Cranberries di iPod lo dan duduklah di sudut ruangan yang benar-benar sunyi.

Bulan Juli ini, yang gw rasakan bukan cuma masalah cinta yang picisan. It's more complicated. It's whole lotta love. Cintamu kepada Penciptamu. Cintamu kepada orangtuamu. Cintamu kepada saudara dan kerabatmu. Cintamu kepada orang-orang yang memberi pengaruh positif pada dirimu. Cintamu kepada teman dan sahabatmu. Dan tentu saja, cintamu kepada dirimu.

"You know I'm such a fool for you. You got me wrapped around your finger. Do you have to let it linger?"

Of course they will. They will always be. Gw tersadar. Tidak banyak hal yang gw perbuat untuk mereka. Gw sempat melupakan mereka sejenak. Hingga awal Juli lalu, gw kehilangan salah seorang pemberi inspirasi. It was a hard time for me. Mulai saat itulah "sesuatu" terbentuk kembali dan gw akan menjalaninya. Pasti.

Tidak hanya disitu, minggu pertama Juli pun dipenuhi kecemasan, was-was dan limit penantian. Should I stay or should I go? Stay for unconvenience job or go for another chance of future investment a.k.a. "the next level of study hard"? I did well back then. Alhamdulillah, akhirnya gw diberi kesempatan menimba ilmu lagi.

Masih ada beberapa hal 'beyond feeling' tak tertuang yang menginspirasi. Namun pastinya dengan perbuatanlah akan gw lakukan perubahan secara perlahan. Tema "Sounds of change" dari salah satu brand sepertinya juga akan menjadi tema untuk semangat baru gw. Inilah kenapa gw tidak memulai blog pada awal Agustus (yang tinggal 1 hari lagi). Untuk mengingat Juli 2007 yang sangat berperan dalam perubahan, dan karena (mudah-mudahan) perubahan dimulai besok. Sang Agustus.

Every new beginning comes from some other beginning's end.


Note:
Oia, karena pagi ini di salah satu stasiun TV lokal membahas tentang blog, kayanya lucu juga kalo nulis di blog. Makanya gw start hari ini...hehehe. Eh, tapi ga juga sih. Sebenernya udah lama direncanakan kalo gw akan start di satu waktu di bulan Juli 2007 (karena 7-7-7 terjadi di Juli 2007, tadinya mau 7 Juli ^_^). Tapi memang entah apa yang terjadi, segala sesuatu yang kebetulan (atau takdir?) membuat gw melakukannya hari ini. Hmm....